Sara, Surga Tersembunyi di Bumi Porodisa

The Hidden Paradise di bumi utara Porodisa. (Foto: kkp.go.id)

Pulau Sara – Talaud bukan hanya soal pulau perbatasan dan terluar di Indonesia, tetapi juga memiliki pesona alam yang sangat indah. Bahkan Talaud dijuluki Bumi Porodisa yang berarti paradise atau kepingan surga. Kabarnya, julukan ini diungkapkan pelaut Portugis ketika melakukan pelayaran sepanjang Kepulauan Sangir-Talaud. Nama Porodisa sendiri mencakup seluruh pulau-pulau Talaud yang biasa disebut Talaud-Porodisa.

Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Philipina (Davao) ini dihuni oleh masyarakat yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Dekatnya dengan wilayah Philipina menjadikan banyak masyarakat di sini juga bisa berbahasa Tagalog. Untuk menuju ke sini, dari Manado kita bisa melanjutkan penerbangan dengan tujuan Melonguane yang berada di Pulau Karakelang, Kepulauan Talaud. Pulau Karakelang sendiri merupakan pusat pemerintahan Kepulauan Talaud dan merupakan pintu masuk karena bandara Melonguane yang merupakan bandara penghubung berada di pulau ini.

Dengan menggunakan pesawat Wings Air yang terbang setiap harinya dari Manado ke Melonguane, kita dapat berangkat dari Manado sekitar pukul 10.00 dan balik ke Manado sekitar pukul 13.00. Namun jadwal ini tergantung cuaca. Lama penerbangan adalah satu jam. Sementara jika menggunakan kapal laut dari Manado dengan lama perjalanan adalah 16 jam. Kapal yang melayani rute Manado-Melonguane adalah salah satunya KM. Ratu Mania dengan biaya berkisar 200-400 ribu rupiah.

Ikon Pariwisata Andalan

Berbicara tentang Talaud tidak lepas dari hadirnya ikon wisata yang ada di kabupaten ini. Kepulauan yang ditetapkan sebagai destinasi wisata daerah perbatasan (crossborder) ini telah menjadikan Pulau Sara sebagai ikon pariwisata andalan. Pulau ini memiliki ciri khas yang unik, yakni pulaunya tak berpenghuni dan pantainya yang berpasir putih halus. Pulau tak berpenghuni ini dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari Melonguane, Pulau Karakelang, atau 5 menit dari Lirung (Pulau Salibabu) melewati laut yang menjadi jalur pelayaran.

Perjalanan dari dan ke pulau Salibabu dari Pulau Karakelang akan melewati pulau kembar yaitu Pulau Sara Besar dan Sara Kecil. Legenda setempat menceritakan bahwa awalnya kedua pulau ini adalah satu bagian pulau besar. Dipercaya warga, bagian ujung pulau ini ditabrak oleh ular raksasa sehingga terpisah menjadi Pulau Sara Besar dan Pulau Sara Kecil. Dalam bahasa daerah, nama Sara’a berarti tertimpa dari pelarian ular raksasa.

Dari kedua pulau ini, yang banyak menjadi destinasi wisatawan pada umumnya adalah Sara Besar meskipun Sara kecil tak kalah indahnya. Pulau Sara besar (Pulau Sara) ini merupakan surga bagi mereka yang menyukai panorama taman laut. Air lautnya sungguh jernih membiru membuat terumbu karang dan ikan dapat terlihat jelas dari permukaan laut. Keindahan taman lautnya akan semakin jelas bagi mereka yang gemar diving atau snorkeling.

Belum banyak yang tahu tentang keberadaan pulau ini. Pengunjungnya pun masih didominasi oleh wisatawan lokal, pun masyarakat sekitar yang ingin melepas penat atau sekadar bermain pasir dan berenang di sini. Pulau ini terkenal dengan pasir putihnya yang selembut tepung atau disebut juga powder sands, dan pantainya yang menakjubkan dengan tiga gradasi warna laut yang indah. Di pulau ini juga telah dibangun sejumlah cottage dan parasarana air bersih.

Agar benar-benar eksotis, Pulau Sara memang dibiarkan kosong tanpa penghuni. Atmosfer pulau akan terasa berbeda kalau tanpa penghuni. Sepinya pulau ini dan belum banyaknya orang yang tahu, menjadikan Sara sebagai The Hidden Paradise di bumi utara Porodisa. (kkp.go.id)