Menjelajah Miangas, Mengamati Keanekaragaman di Ujung Utara Garis Wallacea

Berbagai jenis burung yang ditemukan tim BP2LHK Manado di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud. (Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

Miangas – Dibalik keindahan alam Kepualauan Talaud, tersimpan keanekaragaman makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, terutama kawanan burung dan reptil yang mendiami Pulau Miangas. Untuk mengetahui kekayaan alam di ujung utara garis Wallacea ini, tim peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado pernah melakukan eksplorasi.

Pengamatan itu dilakukan secara jelajah di jalan menuju kebun, pesisir pantai, dan menara suar selama lima kali dengan masing-masing durasi selama tiga hari. Ketua Tim Penelitian Ady Suryawan menjelaskan, berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 15 jenis burung di Pulau Miangas. Sebanyak tiga jenis burung hanya tersebar di Kepulauan Talaud, delapan jenis tersebar hingga Asia, tiga jenis merupakan jenis Wallacea utara, dan satu jenis migrator.

“Jenis burung endemik yang teridentifikasi yaitu Eos histrio talautensis, Todirampus enigma enigma, dan Ducula peckeringii,” kata Ady.

Ia mengatakan bahwa Eos histrio talautensis yang merupakan nama latin dari sampiri merupakan jenis burung yang banyak ditangkap dan diselundupkan ke Filipina, sehingga status konservasinya saat ini termasuk ke dalam endangered. Sampiri memiliki tiga sub jenis, yaitu Eos histrio challengeri yang telah punah di Pulau Miangas dan Kepulauan Nanusa, sedangkan Eos histrio histrio hidup di Pulau Sangihe.

“BP2LHK Manado pernah melakukan upaya penangkaran burung sampiri bekerja sama dengan BKSDA Sulawesi Utara. Jenis ini termasuk monomophik di mana jantan dan betina sulit dibedakan karena ukuran dan warna tubuh relatif sama,” terangnya.

Selain kawanan burung, tim juga menemukan berbagai jenis reptil seperti kadal dan ular. Kadal yang berhasil dikumpai ada tiga jenis yaitu Eutropis multicarinata, Emoia caeruleocauda, dan Lamprolepis smaragdina. Ady menjelaskan, Lamprolepis smaragdina termasuk ke dalam jenis kadal hybrid, yang tersebar di Wallacea dan Kepualaun Pasifik.

Timnya juga menjumpai satu jenis ular laut di Pulau Miangas dengan corak biru hitam atau Laticauda laticauda. Ular ini merupakan jenis ular berbisa, hidup hingga 50 meter di bawah permukaan laut.

Intensitas perjumpaan satwa-satwa ini di Pulau Miangas, katanya, banyak dijumpai di sekitar hutan mangrove dan kebun kelapa. Sedangkan di bukit dapat dijumpai jenis B. indicus atau elang laut, N. jugularis atau sriganti, dan H. caudacutus.

“Selebihnya banyak dijumpai di sekitar pesisir dan kebun kelapa. Semua jenis kadal dijumpai di sekitar kebun kelapa, sedangkan ular laut dijumpai saat mendarat di pesisir pantai,” imbuh Ady.

Ketua tim itu kemudian menerangkan perjalanan yang harus ditempuh jika ingin ke tempat pengamatannya tersebut. Perjalanan ke Pulau Miangas dapat ditempuh melalui jalur udara selama 45 menit dari Bandara Sam Ratulangi menuju Bandara Melonguane, kemudian berganti moda kapal laut menggunakan Kapal Perintis Sabuk Nusantara yang memakan waktu selama dua hari satu malam. Namun saat ini, perjalanan itu dapat ditempuh hanya dengan 1,5 jam melalui jalur udara dari Manado. Sejak April 2017 sudah dibuka penerbangan Manadi-Miangas dengan transit di Bandara Melonguane.