Abner Sarlis Tindi, Anak Perbatasan yang Ingin Bangun Peradaban

Abner Sarlis Tindi saat diwawancarai awak media usai menjadi pembicara diskusi di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada (UGM). (Foto: Arif Giyanto)

Nanusa – Setiap orang boleh saja bermimpi. Tapi bagi Abner Sarlis Tindi, mimpi bukan hanya sekadar angan, yang digantungkan setinggi langit, tanpa ada usaha untuk menggapainya. Ia, putra asli Karatung itu, betapa berani memiliki mimpi besar: menjadikan Indonesia, terutama kawasan utara, sebagai gerbang peradaban dunia. Baginya bukan hal mustahil seorang anak bangsa dari perbatasan untuk berani mengambil langkah dalam menggapai mimpinya itu.

Mimpi itu ia ukir sejak kecil. Tentu saja perlu kerja keras dan disiplin tinggi. Tahap demi tahap dirangkai, yang menjadi dasar dari setiap langkahnya dalam mengejar mimpi. “Dalam mewujudkan mimpi maka memerlukan kerja keras dan keuletan serta kedisiplinan dalam mengatur irama kerja seseorang. Sehingga, tercipta tahapan yang menjadi dasar langkahnya,” ungkap Abner.

Mimpi berikut kerja keras tersebut kemudian berhasil ia rangkum dalam sebuah buku berjudul “Sang Putra Pasifik Mengejar Mimpi: Mendayung dari Bibir Pasifik Hingga ke Atas Merapi”. Buku itu yang beberapa waktu lalu diseminarkan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada (UGM).

Buku ini menarasikan perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecil dalam sebuah keluarga sederhana yang harmonis nun jauh di bibir pasifik, hingga perjuangannya yang tak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut Abner, perlu usaha yang lebih besar bagi seorang anak perbatasan seperti dirinya untuk melihat dunia yang lebih luas. Nyatanya perjuangan mengejar mimpi memang berat, tapi bukan berarti tidak bisa diraih.

Saban episode kisahnya itu kini diceritakan kembali untuk dibagikan kepada seluruh anak bangsa di manapun berada, sehingga dapat bersama-sama merefleksi diri, betapa berharganya setiap waktu dan kesempatan yang ada. Ia ingin pula menularkan semangat agar generasi muda berani berkontribusi lebih untuk Indonesia.

Ada yang coba ia garisbawahi dalam buku terbitan Pandiva Buku itu, bahwa mimpi adalah dokumentasi sejarah di alam virtual. Topik ini sengaja ia angkat untuk menandai dan mempelajari interval mimpi yang datang delapan tahun sekali dalam hidupnya, dan sepertinya semakin lama semakin dipersingkat menjadi empat tahun (1996, 2004, dan 2012, 2016).

“Sehingga ketika semua digenapi, kita mengetahui bahwa hal itu sudah diberitahukan atau minimal sudah ada dokumentasi sejarah perjalanan hidup yang dibukukuan dan dibaca oleh semua orang,” kata Abner saat membedah bukunya di UGM.

Ingin Jadikan Talaud sebagai Gerbang Garuda Nusantara

Etos kerja yang tinggi serta keinginan untuk mendedikasikan diri demi Indonesia yang lebih baik menjadi penyemangat Abner dalam menjalani hari-hari, bahkan dapat mengantarkannya menyelesaikan Program Doktoral Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan UGM dengan hasil yang gemilang.

Terkait dengan disertasinya, Abner mengemukakan, untuk pembagunan kawasan ecotourism yang berbasiskan pesisir diperlukan sistem kerja sama yang kuat dari berbagai pihak terutama masyarakat sekitar sehingga percepatan pembangunan tersebut akan sangat terasa.

Menurutnya, saat ini pembangunan ecotourism yang berbasiskan pantai belum maksimal dalam penggunaan modal sosial yang dimiliki bangsa ini. Sehingga, Indonesia yang kaya dengan potensi wisata alam masih juga banyak warga masyarakat yang miskin atau sejahtera yang seharusnya menerima keuntungan dari hasil wisata yang berkembang di wilayahnya.

“Banyaknya masyarakat yang ada merupakan modal sosial yang penting yang dapat digunakan dan dimaksimalkan untuk percepatan pembangunan. Sehingga, akan menjadi sebuah sistem pembangunan dan pemberdayaan melalui pariwisata,” terang Abner yang masih punya mimpi untuk menjadi Sekretaris Jendral PBB ini.

Ke depan, Abner akan kembali bekerja sebagai ASN di Talaud Sulawesi Utara dan akan tetap berjuang mewujudkan mimpinya menjadikan Talaud sebagai gerbang Garuda Nusantara, gerbang peradaban dunia.