Strategi Konservasi Menuju Talaud Lestari

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Talaud bekerja sama dengan Yayasan IDEP Selaras Alam mengajak masyarakat agar peduli dan menjaga keseimbangan ekosistem di Kabupaten Kepulauan Talaud. (Foto: IDEP Foundation)

Talaud – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Talaud bekerja sama dengan Yayasan IDEP Selaras Alam menggelar kegiatan Workshop Sehari, Diseminasi Metode Permakultur sebagai Strategi Konservasi di Talaud, Jumat (30/8/2019). Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar peduli dan menjaga keseimbangan ekosistem di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Acara dengan tema “Menuju Talaud Lestari” itu dibuka oleh Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kapulauan Talaud Adolf Binilang. Ia mengatakan, pihaknya menyambut baik dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Apalagi, imbuhnya, Kabupaten Kepulauan Talaud menyimpan beberapa satwa endemik yang perlu dilestarikan dan dilindungi.

“Yayasan IDEP bekerja sama dengan lembaga dan institusi yang terus konsen memperhatikan alam lingkungan dan satwa menjadi partner pemerintah daerah untuk terus menerus peduli dan menjaga keseimbangan ekosistem sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rantai kehidupan yang saling membutuhkan,” urai Binilang.

Kegiatan ini dirangkai pula dengan penyerahan hadiah kepada pemenang Lomba Kebun Pekarangan Keluarga (KPK) Permakultur.

Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Istilah ekosistem pertama kali diperkenalkan oleh Roy Clapham pada 1930. Menurut Clapham, dalam suatu ekosistem antara makhluk hidup dengan lingkungannya terjadi hubungan satu sama lain sebagai suatu unit. Selanjutnya, Athur Tasley, seorang ahli lingkungan Inggris pada tahun 1935 menggunakan istilah ekosistem untuk menggambarkan bagaimana hubungan timbal balik antara komponen biotik dan komponen abiotik.

Parhehean, seorang pemerhati lingkungan di Kota Medan menerangkan, hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya bersifat timbal balik dan kompleks. Ekosistem terdiri dari dua komponen utama, yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik berupa makhluk hidup yang dapat dikelompokkan berdasarkan perannya dalam rantai makanan meliputi produsen, konsumen, dan pengurai.

Keseluruhan komponen ekosistem tersebut, menurut Parhehean, merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan harus dijaga keseimbangannya agar tidak menimbulkan kerusakan bagi kehidupan serta lingkungan sekitar. “Sepanjang kita tidak mampu menjaga keseimbangan ekosistem dengan memperhatikan seluruh komponennya, maka dampak buruknya akan muncul  di kemudian hari,” terangnya.

Ketika satu komponen menghadapi masalah, maka hal demikian akan turut berdampak pada komponen lainnya. Artinya, terang Parhehean, jika terjadi gangguan dalam satu komponen, gangguan dimaksud tidak hanya akan berdampak pada komponen itu sendiri, namun juga akan turut berdampak pada keberadaan komponen lainnya.

Dalam konteks ini, Parhehean menggarisbawahi bahwa manusia sebagai makhluk paling mulia yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki akan dan budi seyogyanya mampu menjaga dan mengendalikan seluruh komponen ekosistem agar dapat membawa dampak positif bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Menurutnya, tanpa kesadaran penuh bahwa menjaga keseimbangan ekosistem adalah merupakan tanggung jawab bersama, maka hal demikian akan membuat kehidupan manusia terganggu, seiring dengan adanya gangguan yang dialami oleh salah satu, atau bahkan beberapa komponen ekosistem sekaligus.

“Oleh sebab itu, di sinilah pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga agar tercipta keseimbangan ekosistem demi membangun situasi dan kondisi lingkungan hidup yang sehat,” imbuhnya.